Liburan musim panas sudah tiba, inilah saat yang tepat untuk keluarga Williams melancong ke belahan dunia lain. Kali ini keluarga tersebut memilih untuk pergi ke Outer Banks一 Carolina Utara, menikmati jutaan pantainya yang terkenal dengan keeksotisan dan keindahannya. Tentunya hal itu sangat cocok dijadikan tempat untuk bersantai menikmati hangatnya musim panas bersama keluarga. Tuan dan nyonya Williams serta puteri bungsunya一Meredith, sudah berangkat terlebih dahulu ke sana menggunakan pesawat dari Chicago ke Carolina Utara beberapa jam yang lalu dan mereka pun pastinya sudah tiba di sana. Sedangkan kedua anak tertua mereka一Desiree dan Sean Williams, memilih untuk menyusul karena siang tadi mereka masih berada di asrama sekolah masing-masing. Mereka akan menyusul beberapa saat lagi pada rute penerbangan terakhir dari Chicago, tepatnya pada 10:30 malam.
"Desiree, kau sudah selesai menyiapkan semuanya ? Kenapa lama sekali, huh ? Kau tidak lihat ini sudah jam berapa ? Kita bisa tertinggal, Bodoh !" teriak Sean dari lantai bawah, yang terlihat sudah bosan menunggu sang kakak yang menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat lamban.
"Salah satu perlengkapan make up ku hilang, itu lipstik kesayangku. Aku harus mencarinya terlebih dahulu. Lagipula ini masih dua jam lagi, Sean. Jarak dari rumah kita tak lebih dari 30 menit. Jangan terlalu berlebihan, tolonglah," sahut Desiree, tak kalah kencangnya dengan suara sang adik.
"Girls always annoying," gumam Sean, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Desiree pun turun dari lantai atas dengan senyum di wajahnya sambil menunjukkan lipstiknya yang sudah ditemukan. Sean hanya memutar bola matanya melihat tingkah menyebalkan kakaknya itu. Kenapa harus repot-repot mencari lipstik yang hilang, sedangkan ia masih bisa membeli ratusan lipstik lainnya. Perempuan memang sangat sulit.
"Sudah ? Kita bisa berangkat sekarang ?" tanya Sean, tak membahas sama sekali soal lipstik tersebut. "Tapi, tunggu dulu, Brat belum datang menjemput. Aku belum mendengar suara mobilnya sama sekali," lanjut lelaki berambut plontos itu.
"Hey, kau lupa, Bodoh ? Jalanan depan kan sedang diperbaiki. Mana mungkin bisa dia sampai ke sini, kita harus jalan sampai ke depan Nando's, 1 blok dari sini. Tak terlalu jauh, sih, tapi..." Desiree menggantungkan kalimatnya.
"Satu-satunya jalan menuju sana hanyalah jalanan Elm Street yang menghubungkan blok 3 dan blok 4. Di sana kan terkenal sepi dan sedikit angker. Apalagi liburan musim panas sudah tiba, pasti beberapa rumah sudah kosong karena penghuninya pergi liburan. Apa Brat tidak akan menjemput kita di sini ? Setidaknya kalau ada dia, mungkin tak akan terlalu menyeramkan melewati jalanan itu," kata Sean mencoba memberi saran.
Desiree menghela nafas, "Hey, dengar Brat saja belum tentu sudah tiba di sana atau tidak ketika kita sampai nanti. Ia baru berangkat dari rumah," jawab Desiree sedikit memelankan suaranya di akhir.
"Apa ? Ia baru berangkat ?" kata Sean kaget. "Pacarmu memang tidak bisa diandalkan sama sekali, ya. Sudahlah putuskan saja pacar yang seperti itu," ujar Sean dengan wajah yang kesal, namun perkataannya mendapatkan toyoran dari sang kakak.
"Enak saja katamu !" sahut Desiree sambil menoyor kepala adiknya, pelan. "Brat itu lelaki paling tampan dan populer di sekolahku, mana mungkin aku meninggalkannya. Dasar bodoh !"
"Ya, terus bagaimana sekarang, nona Desiree yang populer dan terhormat ?" sindir Sean.
Desiree berpikir sejenak, "Hmmm, yasudah kita berangkat saja. Semoga tidak ada hal menyeramkan apapun di sana," saran Desiree.
"Tapi, kan..."
"Kenapa ? Kau takut ? Dasar lemah !" ejek Desiree, padahal dirinya pun takut.
"Hey, aku kan masih 14 tahun," sahut Sean, tak mau kalah.
"Tapi, kan, kau laki-laki. Bahkan kau lebih tinggi dua inchi dariku. Sudahlah jangan bertingkah ke kanak-kanakan."
"Yasudah, iya, ayo kita berangkat," ajak Sean akhirnya.
Desiree pun mengunci pintu rumahnya, dan mereka pun siap untuk berangkat ke bandara bersama Brat yang entah apakah sudah berada di Nando's atau belum karena lelaki itu memang belum mengabari. Mereka berjalan dengan sedikit tenang, melihat kanan kiri, dan berpegangan tangan layaknya seorang kakak beradik yang akur dan saling melindungi. Dan dugaan mereka benar, hampir beberapa rumah di blok rumahnya sudah kosong dan gelap. Beberapa mungkin sudah meninggalkan kota itu sejak hari ini atau bahkan sejak beberapa hari kemarin. Sampai akhirnya mereka tiba di blok 3, tepatnya di jalanan Elm. Di sana benar-benar terlihat sepi dan gelap, hampir seluruh rumah sudah tak berpenghuni. Satu-satunya cahaya yang terlihat hanyalah lampu jalan dan juga lampu di dua rumah yang terletak di ujung jalanan tersebut.
"Desiree... Aku benar-benar takut," ucap Sean, memegang tangan kakaknya dengan lebih erat.
"Tenanglah ini hanya beberapa ratus meter, kita akan sampai di Nando's tak lebih dari 10 menit. Lagipula kita kan biasa berlari dari sini," kata Desiree mencoba menenangkan adiknya, meski dirinyapun sama takutnya dengan sang adik.
"Tapi, itu kan di siang hari, Desiree," sahut Sean.
"Ya, memang. Tapi, sudahlah kita tennag saja."
Mereka pun mulai berjalan melewati jalan yang di samping kanan dan kirinya dihiasi dengan pepohonan Elm. Mereka mencoba berjalan dengan sangat tenang dan tak terlalu terburu-buru. Namun, tiba-tiba, ketika mereka sudah setengah perjalanan menuju blok 4, mereka mendengar suara langkah kaki di belakang mereka. Langkah itu terdengar jauh, tapi sangat jelas. Kedua kakak beradik itu pun menoleh, dan betapa kagetnya mereka melihat penampakan yang muncul jauh di belakang mereka sekarang. Di ujung jalanan tersebut, yang menghubungkan blok 3 dan tempat tinggalnya, di sana terlihat seorang yang mereka anggap sebagai lelaki tengah berdiri mematung menatap ke arah mereka berdua. Lelaki tersebut tinggi dan besar, dengan jubah yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Mereka bahkan tak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas karena semuanya terlihat hitam dan gelap, seperti siluet lebih tepatnya.
Melihat hal yang menyeramkan seperti itu, tanpa berpikir panjang, Desiree dan Sean pun berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu menuju blok 4. Namun, sesuatu hal yang aneh terjadi, sekencang apapun mereka berlari, mereka tak pernah sampai ke sana seolah-olah jalanan itu memanjang seiring mereka berlari. Namun, yang lebih aneh dan menyeramkan adalah ketika mereka tidak pernah sampai ke ujung jalan, lelaki berjubah hitam itu justru terlihat semakin dekat detik demi detiknya. Dengan nafas yang terengah-engah, Desiree dan Sean pun berhenti, mereka terjatuh ke tanah dalam keadaan duduk. Ternyata, sejak tadi mereka tak pernah bergerak, mereka tetap berada di tempat semula saat mereka melihat lelaki itu. Sambil memeluk adiknya yang menangis, Desiree mencoba melihat ke arah belakang dan ternyata siluet itu semakin mendekat, mungkin hanya berjarak sepuluh meter saja dari tempat mereka berada sekarang.
Desiree memeluk adiknya semakin erat, ia menangis histeris, "Kumohon jangan ganggu kami, kami hanya melewat saja.. Tidak ada maksud lain, kumohon pergilah !" ucap Desiree sambil menangis.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja suara seorang lelaki yang amat mereka kenal mengagetkan mereka, "Hey, guys, apa yang terjadi ? Kenapa kalian duduk di jalanan ?" ucap lelaki itu dengan khawatir.
Desiree langsung melihat ke asal suara, perempuan itu merasa lega dan senang. "Oh, Brat, akhirnya kau datang," ucapnya, masih menangis.
"Ayo bangun ?" kata Brat, sambil membangunkan Desiree dan Sean. "Hey apa yang terjadi kepada kalian ?"
"Kau kenapa lama sekali, huh ? Kami hampir mati ketakutan di sini," keluh Sean sambil mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
"Memangnya ada apa ? Ceritakan padaku," tanya Brat, lagi, ia semakin penasaran.
"Brat, tadi kami..." ucap Desiree mencoba menjelaskan namun ia sadar akan sesuatu. Ternyata, mereka sudah berada di ujung jalan, mereka bahkan sudah sampai di seberang Nando's berada. "Oh, sial, Sean bukankah kita tadi berada..." melihat ke arah Sean yang tak kalah bingung seperti dirinya.
"Oh, Tuhan, Desiree sejak tadi kita sudah berada di sini. Bagaimana bisa ini tetjadi ? Ini benar-benar aneh," jawab Sean, bingung dengan apa yang baru saja mereka lalui.
Brat semakin dibuat penasaran, "Hey, guys, kumohon, apa yang terjadi pada kalian berdua, huh ?"
"Brat, kami tadi melihatnya," ucap Desiree, sedikit terbata-bata.
"Siapa ?"
"A Siluette Guy."
Langganan:
Postingan (Atom)
Altar dan Alana (Part 2)
Baik Altar maupun Alana sudah sampai di sekolahnya. Alana langsung memarkirkan mobil mewahnya di parkiran khusus anak-anak Pandora, sedangka...
-
“Ma.. Pa.. kami berangkat dulu ya,” ucap Freja lalu memeluk kedua orang tuanya secara bergantian dan disusul oleh Einar. “Iya, jaga dir...
-
Baik Altar maupun Alana sudah sampai di sekolahnya. Alana langsung memarkirkan mobil mewahnya di parkiran khusus anak-anak Pandora, sedangka...
-
"Christina, wake up !" seru seorang lelaki berperawakan tinggi dari arah pintu kamar. Perempuan yg disapa Christina itu han...