Sabtu, 01 Mei 2021

Altar dan Alana (Part 1)

Rumah mewah dan besar itu terlihat begitu sepi, hanya ada satu anak lelaki yang tengah memakan roti panggangnya dengan enggan. Tak lama dari lantai atas turunlah sepasang suami istri yang terlihat begitu terburu-buru. Mereka pun menghampiri anak lelaki tadi di meja makan.

"Sayang, mama berangkat kerja dulu ya.. Soalnya hari ini mama ada jadwal operasi pagi-pagi banget. Maaf ya hari ini mama gak bisa temenin kamu sarapan. Bye sayang," ucap wanita yang ternyata adalah ibu dari lelaki itu. Wanita itu mencium pipi putranya sebelum pergi.

Berbeda dari ibunya, sang ayah justru ikut duduk di meja makan. "Altar, sebentar lagi kan ada tes SAT di sekolah kamu, pokoknya papa gak mau tau, kamu harus mendapatkan nilai yang tinggi supaya kamu bisa masuk ke Harvard. Kamu harus bisa seperti papa, ya? Jadi mahasiswa Harvard. Kalau bisa nilai kamu adalah nilai tertinggi di Galapagos, oke? Keluarga kita harus tetap jadi nomor 1 di Pandora. Papa yakin kamu bisa, nak," ucap sang ayah sambil tersenyum dan menepuk pundak anaknya memberi semangat.

Anak itu yang ternyata bernama Altar hanya bisa tersenyum simpul menanggapinya.

"Oiya, papa juga berangkat duluan ya. Maaf hari ini papa juga gak bisa temenin kamu sarapan. Papa harus pergi ke Hongkong selama beberapa hari. Kamu jaga diri baik-baik ya. Kalo ada apa-apa, kamu harus langsung hubungin papa. Bye, buddy," ucap sang ayah, mengusap puncak kepala Altar lalu pergi.

"Hhhhh." Altar menghembuskan nafasnya kasar. "Bukannya setiap hari kalian gak pernah nemenin aku sarapan ya? Bukannya aku selalu sendiri di sini? Kenapa harus minta maaf?" umpat Altar sambil meletakan roti panggang yang hanya baru disantap setengahnya. Kemudian ia pun pergi ke garasi untuk bersiap-siap ke sekolah. Awalnya ia ingin mengemudikan audi merah kesayangannya, tapi hal tersebut diurungkannya. Ia malah lebih memilih untuk menaiki motor ninja miliknya yang sejak beberapa bulan lalu tak ia sentuh. Bukan karena ia tak mau, tapi suatu hal membuat orang tuanya melarang keras Altar untuk mengendarai motor. Bahkan motor itu sempat akan dibuang oleh sang ayah kalo saja Altar tak melarangnya.

"Lho, den Altar mau naik motor? Jangan dong den, nanti tuan dan nyonya marah sama saya. Den Altar pake mobil aja ya atau saya yang anterin?" ucap pak Jaka, supir di rumah itu.

"Tapi, aku maunya naik motor, pak. Aku gak papa kok," jawab Altar tegas.

"Tapi, den.. Ini kan motor udah lama gak dipake. Terus terakhir kali aden pake...." Pak Jaka menggantungkan kalimatnya, "Udah ya den, saya anterin aja ya.. Tuan dan nyonya kan bilang..."

Belum sempat pak Jaka melanjutkan kalimatnya, Altar sudah menyela, "Kalo aku bilang aku mau naik motor, berarti aku naik motor, pak. Udah deh pak Jaka gak usah ikutin kemauan mama sama papa. Mereka tuh gak pernah bener-bener sayang sama aku. Lihat aja sekarang atau hari-hari sebelumnya, apa mereka ada buat aku? Perhatian yang mereka tunjukin itu cuma topeng. Udah ah aku mau berangkat."

Pak Jaka tetap melarang, tapi Altar tak peduli.

"Buka pintu garasinya!" perintah Altar.

"Tapi, den..."

"Aku bilang buka, sekarang!"

Pak Jaka tak punya pilihan lain, akhirnya ia pun mengeluarkan remote control yang ada di saku bajunya, ia pun membuka pintu tersebut. Saat itu juga, Altar langsung menancapkan gas meninggalkan halaman rumahnya. Para pelayan yang sedang bekerja di dalam rumah ataupun di luar rumah terkejut melihat sang tuan muda menggunakan motornya kembali. Masalah besar siap menanti mereka.


***


Di rumah lain, terlihat seorang anak perempuan tengah mengoleskan lipstik merah muda di bibir mungilnya. Sambil memandang cermin, ia tersenyum melihat pantulan dirinya yang begitu cantik. Sebagai anak paling populer dan incaran setiap siswa laki-laki di sekolahnya, perempuan itu terlihat begitu sangat bangga. Ia bangkit dari meja riasnya kemudian mengambil tas ranselnya dan siap berangkat. Namun, sesaat sebelum ia membuka pintu, masuklah seorang wanita dengan wajah kesal sambil memegang kertas yang sudah dipastikan itu adalah masalah baru.

"Alana, mama gak habis pikir ya sama kamu. Kok bisa-bisanya nilai matematika kamu 30? Kamu selama ini ngapain aja sih di sekolah?" ucap wanita itu begitu sampai di dalam. 

Perempuan bernama Alana itu menutup telinganya karena suara mamanya itu terdengar memekakan telinga. 

"Aku di sekolah ngapain? Ya duduk, dengerin guru ngomong, abis itu ke kantin, latihan cheerleaders, pulang deh," jawab Alana singkat dengan wajah tak bersalah. 

"Alana, kamu itu harus belajar! Mama itu malu ya kalo kumpul sama tetangga-tetangga kita yang mana hampir semua anaknya masuk 10 besar. Lah kamu 10 besar dari belakang." 

"Yaudah mama gausah kumpul-kumpul lagi sama mereka, ribet banget. Lagian ya ma, kita kan udah kaya, nilai itu gak penting ma. Sekarang aku tanya, aku kuliah untuk apa? Untuk kerja, kan? Kerja untuk apa? Untuk dapet uang. Nah, ngapain aku capek-capek kerja kalo apapun udah bisa aku dapetin dari sekarang, eh gak dari aku kecil. Udah lah, ma, kekayaan peninggalan papa ini gak akan habis. Anak mama cuma 1, aku. Santai aja.. Apalagi sebentar lagi mama mau nikah sama pengusaha batu bara itu, kan? Yaudah santai aja kali," jelas Alana panjang lebar, dengan smirk di wajahnya. 

Mamanya menghembuskan nafas kasar, "Alana, ini bukan soal uang. Ini soal gengsi.. Kalo soal kaya, kamu gak liat keluarga Alexandria? Glenn Alexandria, pengusaha properti ternama di Indonesia dan juga mancanegara. Velove Alexandria, dokter bedah kepala terbaik di rumah sakit ternama di Indonesia, bahkan namanya sudah tercantum di Forbes sebagai salah satu wanita berpengaruh di dunia. Tapi, coba kamu liat! Anaknya tetap jadi nomor 1 di sekolah bahkan setelah peristiwa buruk yang ia alami.. Dan mama mau kamu seperti dia, Alana. Mama mau kamu serius, minimal nilai kamu gak anjlok banget kayak gini," ucap sang ibu panjang lebar, namun Alana hanya mengangguk-angguk sambil memandangi hapenya tak peduli. 

"Ma, Alana dan Altar itu beda. Dan sampai kapanpun aku gak bisa seperti dia. Lagian ya, ma, meskipun aku gak secerdas Altar, gak sekeren Alegori dan Metafora yang katanya 'The Iconic Duo'  itu atau sehebat Brian maupun Michelle, aku tetep siswa terpopuler di Galapagos. Dan itu gak bisa diganggu gugat. Udah lah, ma, aku gak mau bahas ini lagi. Bye." Kemudian Alana pun pergi melewati ibunya dan berjalan keluar menuruni anak tangga menuju garasi rumahnya. 

Perempuan berambut panjang itu pun langsung menaiki mobil lamborghini miliknya, dan pergi meninggalkan perumahan mewah itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Altar dan Alana (Part 2)

Baik Altar maupun Alana sudah sampai di sekolahnya. Alana langsung memarkirkan mobil mewahnya di parkiran khusus anak-anak Pandora, sedangka...