Sabtu, 01 Mei 2021

Altar dan Alana (Part 2)

Baik Altar maupun Alana sudah sampai di sekolahnya. Alana langsung memarkirkan mobil mewahnya di parkiran khusus anak-anak Pandora, sedangkan Altar memarkirkan motornya di parkiran siswa pada umumnya. Memang, sekolah ini khusus keluarga-keluarga kaya raya, bahkan semua siswa memiliki kendaraan pribadinya sendiri baik diantar oleh supir ataupun pergi seorang diri. Namun, tetap saja penghuni Pandora Hill adalah rajanya di Galapagos. Maka tak heran jika mereka begitu diistimewakan.

Alana melihat ke kanan dan kiri, di sana terlihat semua anak-anak penghuni Pandora Hill sudah ada, kecuali Altar, pastinya. Kini Alana, Michelle, Brian, Lego dan Ara sudah berbaris di depan mobil masing-masing.

"Akhirnya, ujian kita beres hari ini. Sumpah ya gue udah gak sabar banget pengen cepet-cepet liburan ke luar negeri, bosen banget gue di sini apalagi harus liat nyokap mesra-mesraan sama om-om itu," ucap Alana sambil menghembuskan nafasnya kasar.

Michelle mengangguk, "Sama, gue juga pengen liburan. Lo tau kan, liburan kita semester ini barengan sama musim dingin di New Zealand. Gue bener-bener gak sabar pengen main ski di sana."

"Lo mau ke New Zealand juga, Chelle? Sama dong, gue dan anak-anak basket lainnya ngerencanain mau liburan di sana. Bisa kali kita bareng ke sananya," sahut Brian dengan wajah antusias.

"Bisa banget dong, lagian gue juga gak sendiri kok. Sama anak archery jugaa," jawab Michelle tersenyum senang.

"Hmmm, kalian berdua tuh ya gak ada capeknya deh. Di sekolah, olahraga mulu. Liburan juga masih mau olahraga? Mending ikut gue ke Paris, belanja, jalan-jalan keliling sungai seine. Pasti indah banget hmmm.. Apalagi kalo ada pacar," ucap Alana sambil membayangkan hal itu.

"Al, bukannya lo udah punya pacar, ya? Kemaren-kemaren gue lihat lo pulang dianterin cowok," ucap Ara polos.

Michelle terkekeh, "Ara, itu bukan pacarnya Alana. Itu korban ghosting Alana yang kesekian."

Alana menjentikan jarinya sambil tersenyum senang, "That's right, baby."

"Ya ampun lo bener-bener ya, Alana. Gak ngerti gue sama lo," jawab Ara bingung.

Alana melihat Ara, "Udah anak kecil gausah ngerti ya."

Teman-temannya yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar hal itu. Classic Alana, si tukang PHP dan tukang ghosting.

"Tapi, tunggu dulu deh, kalian yakin masih mau liburan ke luar negeri musim ini?" Kali ini Alegori yang bersuara.

"Yakinlah, kan ini liburan kenaikan kelas. Lumayan panjang tuh waktu liburnya," jawab Alana dengan penuh keyakinan, dan hal itu diamini oleh Michelle dan Brian.

Alegori tersenyum, senyuman yang bisa diartikan bukan senyuman yang baik melainkan senyuman yang begitu mengejek. "Kalian lupa, kita sekarang kelas berapa, huh?"

"Kelas 2, emangnya kenapa?" tanya Alana, masih belum paham dengan maksud Alegori.

"Ya Tuhan, kalian lupa atau emang gak tahu, sih? Padahal ini adalah momen yang kita tunggu-tunggu selama ini. Bahkan mungkin ini satu-satunya hal paling menarik di Galapagos selain sekolahnya yang keren. Coba gue tanya, apa yang biasa dilakuin anak kelas 2 di musim kenaikan kelas?"

Alana, Brian dan Michelle saling bertatapan, "Holly shit!"

"Ya ampun, kok bisa-bisanya gue lupa. Prom night and midnight campfire."

Michelle menghela nafas, "Untung gue belum pesen tiket ke New Zealand. Al, kayaknya kita harus cepet-cepet ke desainer langganan keluarga kita, kita harus tampil mempesona di acara Prom Night nanti," ucap Michelle semangat.

"Of course, baby, we're gonna be the queens," jawab Alana dengan wajah yang sumringah.

"Gue boleh ikut gak, sih?" tanya Ara dengan polosnya.

Lego langsung melirik, "Anak kecil, lo itu masih kelas 3 SMP. Gausah ikut-ikutan prom night segala," ucapnya sambil terkekeh.

"Lho, kenapa? Gue kan masih anak Galapagos. SMP Galapagos, tepatnya."

"Tetep aja gak boleh, Ra," jawab Lego sambil mengacak-ngacak rambut adiknya itu, dan langsung dibalas seringai matanya yang tajam. Lego pun langsung menurunkan tangannya dari kepala sang adik.

"Yaudah, mending sekarang kita ke kelas, yuk? Bentar lagi bel masuk," ajak Michelle.

Mereka pun akhirnya pergi ke kelas masing-masing. Michelle, Brian dan Lego berjalan ke kelas yang terletak di lorong kanan sebelah tangga. Sedangkan Alana di lorong kiri sebelah tangga. Ya, Alana memang tidak satu kelas dengan ketiga temannya itu, dia justru satu kelas dengan makhluk asing, menurutnya, yang begitu dingin, cuek dan tak terlihat. Siapa lagi kalau bukan Altar Alexandria.

Altar dulu dan sekarang itu sangat berbeda. Entah apa yang terjadi pada lelaki itu. Alana sempat berpikir, "Apa mungkin Altar terkena cairan kimia yang beracun seperti di film-film? Makanya sekarang sikapnya aneh, seperti makhluk tak kasat mata yang berasal dari Uranus." Entahlah. Dulu, ketika mereka masih kanak-kanak, Altar termasuk orang yang ceria. Dia sangat dekat dengan anak-anak penghuni Pandora, terutama dengan Brian karena memang keluarga mereka sudah ada di sana lebih dulu. Namun, sekarang mereka berdua seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Brian juga Lego seringkali mencoba untuk mendekati Altar dan membangun hubungan baik kembali, tapi lagi-lagi penolakanlah yang mereka dapat. Sejak kecelakaan hari itu, Altar memang menjadi pribadi yang begitu asing, tidak hanya bagi penghuni Pandora Hill, tapi juga bagi siswa siswi di Galapagos. 


***


Bel istirahat sudah berbunyi, Alana, Michelle, Brian, Lego dan kekasihnya一Celine sudah berada di kantin sekolah. Sambil menikmati makanan masing-masing, mereka sibuk membicarakan soal fisika yang baru saja mereka kerjakan. 

"Gila ya.. Padahal gue semalem belajar sampe dini hari. Tapi, sama sekali gak ada yang keluar. Sial banget gak, sih?" keluh Lego. 

"Sabar, sayang. Yang penting kan kita masih bisa isi soalnya. Ya, meskipun iya juga sih, lumayan sulit dan agak ragu sama jawabannya," sahut Celine dan ucapannya itu diamini oleh mereka semua, kecuali Alana, pastinya, yang memang tidak peduli dengan nilai-nilainya selama ini. 

"Iya, aku emang masih bisa jawab semua soalnya. Tapi, kan tetep aja aku udah buang-buang waktu semalem." 

"Makanya, Go. Kayak gue dong, hari ini ujian, semalem gue masih asyik nonton ke bioskop sama... Aduh lupa gue, anak kelas 2C yang orang tuanya dokter bedah plastik, siapa sih?" sahut Alana mencoba mengingat-ngingat namanya. 

"Arkan maksud lo?" sahut Michelle. 

"Nah, dia maksud gue." 

"Lo masih jalan sama Arkan? Tumben banget," tanya Michelle lagi. 

Alana mengangguk, "Sebenernya sih gue udah bosen, dan udah bilang juga ke dia. Tapi, semalem dia ngajakin gue nonton. Ya, dari pada gue di rumah dengerin nyokap ngomel-ngomel suruh belajar terus, mending gue jalan ama dia. Iya, gak?"

"Bener juga sih, gue juga sebenernya males banget di rumah. Belajar, belajar, belajar dan belajar. Dan lo tau gak, obsesi orang tua gue masih aja sama kayak dulu, 'Kamu harus bisa kayak Altar, pokoknya kamu harus jadi nomor satu di Galapagos'. Gitu aja terus," jawab Michelle. 

"Gue juga kali," ucap Alana. 

"Yang jelas kita semua. Kita semua dituntut untuk seperti Altar, meskipun kita sebenernya gak mampu kayak dia." Kali ini Brian lah yang berbicara. 

"Oh iya, ngomong-ngomong soal Altar, kalian semua pernah kepikiran gak sih kalo kita privat sama dia?" ucap Lego ragu. 

"No."

"No."

"Big No."

"Lo gila, ya, Go? Altar jadi guru privat kita? Lo bisa bayangin gimana mencekamnya suasana kelas kita nanti? Gak, gak, gue gak berani ngebayanginnya," kata Alana. 

Lego bingung, sebenarnya ia juga memikirkan hal yang demikian. Tapi, tidak ada cara lain.

"Sebenernya, masalahnya bukan karena sikap dia aja sih. Tapi, emangnya Altar mau ya bantu kita? Masalahnya, tiap kali kita deketin aja, dia selalu ngejauh," sahut Brian. 

"Nah itu dia, dia mau apa nggak? Kalaupun mau, aduh gak kebayang gue nanti gimana. Dia kan dingin, cuek, aduuuh pasti canggung banget suasananya," jawab Alana bergidik ngeri. 

"Tapi, gak ada cara lain selain kita minta tolong sama Altar. Setelah Midnight Campfire, kita bakal masuk ke tahun ajaran baru.. SAT menunggu, guys. Bisa apa kita? Emangnya kalian semua mau diajar sama guru les yang dari lembaga itu?" 

Mereka sejenak berpikir, guru les itu lebih menyebalkan dari pada Altar. Mau tak mau, Altar memang satu-satunya yang mereka harapkan. 

"Oke, tapi gimana caranya?" tanya Alana. 

Mereka berpikir sejenak, lalu tiba-tiba Michelle tersenyum. 

"Gue ada ide," ucap Michelle tersenyum antusias.

"Apa itu, Chelle?"

"Oke, ini mungkin terdengar gila. Tapi, gak ada salahnya kita coba," jawab perempuan berambut kriting itu sambil mengangkat kedua alisnya. "Al, lo kan satu kelas sama Altar. Gimana kalo lo coba deketin dia?"

Alana langsung melotot, "Apa? Lo gak bisa ngasih saran lebih bagus dikit, Chelle? Nggak ah gue gak mau," tolak Alana.

"Al, apa salahnya, sih? Lagian selama ini kan Brian sama Lego gak pernah berhasil untuk deketin dia. Ya, mungkin kalo lo yang nyoba, Altar bisa luluh," jawab Michelle dan langsung diangguki oleh teman-temannya yang lain.

"Dan siapa tahu juga, lo malah bisa bikin dia jatuh cinta," sahut Celine yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alana.

Alana menggeleng-gelengkan kepalanya, "Lo udah gila, ya? Altar jatuh cinta sama gue? Itu gak mungkin, ngebayanginnya aja gue gak berani."

"Belum juga dicoba. Lagian gue prihatin sama lo, Al. Selama ini hidup lo gak ada tujuan tahu gak, sih? Siapa tahu, dengan lo sama Altar, lo bisa jadi The new Alana. Dan kita juga dapet untungnya nanti, punya guru privat kayak Altar. Iya gak, guys?" kali ini Brian lah yang berbicara.

Michelle, Lego dan Celine mengangguk mantap tanda setuju. 

"Udah Al, coba aja dulu. Demi kita dan demi Altar juga," kata Lego.

"Gila ya lo semua! Gue dijadiin umpan begini," umpat Alana. 

Alana pun berpikir sejenak mempertimbangkan perkataan teman-temannya. Sebetulnya mendekati Altar memang pernah ia pikirkan sebelumnya. Namun, Alana terlalu takut akan penolakan. Belum lagi sikap dingin dan cuek yang Altar punya, yang mungkin bisa menyakiti hati dia nantinya kalau memang pada akhirnya Alana benar-benar menaruh hati pada lelaki itu. Alana bingung, tapi ia juga penasaran. Ia yakin Altar sebetulnya masih memiliki cinta di hatinya, kita hanya perlu menyelaminya saja. 

"Oke, gue terima usulan kalian. Gue bakal coba deketin Altar."



Altar dan Alana (Part 1)

Rumah mewah dan besar itu terlihat begitu sepi, hanya ada satu anak lelaki yang tengah memakan roti panggangnya dengan enggan. Tak lama dari lantai atas turunlah sepasang suami istri yang terlihat begitu terburu-buru. Mereka pun menghampiri anak lelaki tadi di meja makan.

"Sayang, mama berangkat kerja dulu ya.. Soalnya hari ini mama ada jadwal operasi pagi-pagi banget. Maaf ya hari ini mama gak bisa temenin kamu sarapan. Bye sayang," ucap wanita yang ternyata adalah ibu dari lelaki itu. Wanita itu mencium pipi putranya sebelum pergi.

Berbeda dari ibunya, sang ayah justru ikut duduk di meja makan. "Altar, sebentar lagi kan ada tes SAT di sekolah kamu, pokoknya papa gak mau tau, kamu harus mendapatkan nilai yang tinggi supaya kamu bisa masuk ke Harvard. Kamu harus bisa seperti papa, ya? Jadi mahasiswa Harvard. Kalau bisa nilai kamu adalah nilai tertinggi di Galapagos, oke? Keluarga kita harus tetap jadi nomor 1 di Pandora. Papa yakin kamu bisa, nak," ucap sang ayah sambil tersenyum dan menepuk pundak anaknya memberi semangat.

Anak itu yang ternyata bernama Altar hanya bisa tersenyum simpul menanggapinya.

"Oiya, papa juga berangkat duluan ya. Maaf hari ini papa juga gak bisa temenin kamu sarapan. Papa harus pergi ke Hongkong selama beberapa hari. Kamu jaga diri baik-baik ya. Kalo ada apa-apa, kamu harus langsung hubungin papa. Bye, buddy," ucap sang ayah, mengusap puncak kepala Altar lalu pergi.

"Hhhhh." Altar menghembuskan nafasnya kasar. "Bukannya setiap hari kalian gak pernah nemenin aku sarapan ya? Bukannya aku selalu sendiri di sini? Kenapa harus minta maaf?" umpat Altar sambil meletakan roti panggang yang hanya baru disantap setengahnya. Kemudian ia pun pergi ke garasi untuk bersiap-siap ke sekolah. Awalnya ia ingin mengemudikan audi merah kesayangannya, tapi hal tersebut diurungkannya. Ia malah lebih memilih untuk menaiki motor ninja miliknya yang sejak beberapa bulan lalu tak ia sentuh. Bukan karena ia tak mau, tapi suatu hal membuat orang tuanya melarang keras Altar untuk mengendarai motor. Bahkan motor itu sempat akan dibuang oleh sang ayah kalo saja Altar tak melarangnya.

"Lho, den Altar mau naik motor? Jangan dong den, nanti tuan dan nyonya marah sama saya. Den Altar pake mobil aja ya atau saya yang anterin?" ucap pak Jaka, supir di rumah itu.

"Tapi, aku maunya naik motor, pak. Aku gak papa kok," jawab Altar tegas.

"Tapi, den.. Ini kan motor udah lama gak dipake. Terus terakhir kali aden pake...." Pak Jaka menggantungkan kalimatnya, "Udah ya den, saya anterin aja ya.. Tuan dan nyonya kan bilang..."

Belum sempat pak Jaka melanjutkan kalimatnya, Altar sudah menyela, "Kalo aku bilang aku mau naik motor, berarti aku naik motor, pak. Udah deh pak Jaka gak usah ikutin kemauan mama sama papa. Mereka tuh gak pernah bener-bener sayang sama aku. Lihat aja sekarang atau hari-hari sebelumnya, apa mereka ada buat aku? Perhatian yang mereka tunjukin itu cuma topeng. Udah ah aku mau berangkat."

Pak Jaka tetap melarang, tapi Altar tak peduli.

"Buka pintu garasinya!" perintah Altar.

"Tapi, den..."

"Aku bilang buka, sekarang!"

Pak Jaka tak punya pilihan lain, akhirnya ia pun mengeluarkan remote control yang ada di saku bajunya, ia pun membuka pintu tersebut. Saat itu juga, Altar langsung menancapkan gas meninggalkan halaman rumahnya. Para pelayan yang sedang bekerja di dalam rumah ataupun di luar rumah terkejut melihat sang tuan muda menggunakan motornya kembali. Masalah besar siap menanti mereka.


***


Di rumah lain, terlihat seorang anak perempuan tengah mengoleskan lipstik merah muda di bibir mungilnya. Sambil memandang cermin, ia tersenyum melihat pantulan dirinya yang begitu cantik. Sebagai anak paling populer dan incaran setiap siswa laki-laki di sekolahnya, perempuan itu terlihat begitu sangat bangga. Ia bangkit dari meja riasnya kemudian mengambil tas ranselnya dan siap berangkat. Namun, sesaat sebelum ia membuka pintu, masuklah seorang wanita dengan wajah kesal sambil memegang kertas yang sudah dipastikan itu adalah masalah baru.

"Alana, mama gak habis pikir ya sama kamu. Kok bisa-bisanya nilai matematika kamu 30? Kamu selama ini ngapain aja sih di sekolah?" ucap wanita itu begitu sampai di dalam. 

Perempuan bernama Alana itu menutup telinganya karena suara mamanya itu terdengar memekakan telinga. 

"Aku di sekolah ngapain? Ya duduk, dengerin guru ngomong, abis itu ke kantin, latihan cheerleaders, pulang deh," jawab Alana singkat dengan wajah tak bersalah. 

"Alana, kamu itu harus belajar! Mama itu malu ya kalo kumpul sama tetangga-tetangga kita yang mana hampir semua anaknya masuk 10 besar. Lah kamu 10 besar dari belakang." 

"Yaudah mama gausah kumpul-kumpul lagi sama mereka, ribet banget. Lagian ya ma, kita kan udah kaya, nilai itu gak penting ma. Sekarang aku tanya, aku kuliah untuk apa? Untuk kerja, kan? Kerja untuk apa? Untuk dapet uang. Nah, ngapain aku capek-capek kerja kalo apapun udah bisa aku dapetin dari sekarang, eh gak dari aku kecil. Udah lah, ma, kekayaan peninggalan papa ini gak akan habis. Anak mama cuma 1, aku. Santai aja.. Apalagi sebentar lagi mama mau nikah sama pengusaha batu bara itu, kan? Yaudah santai aja kali," jelas Alana panjang lebar, dengan smirk di wajahnya. 

Mamanya menghembuskan nafas kasar, "Alana, ini bukan soal uang. Ini soal gengsi.. Kalo soal kaya, kamu gak liat keluarga Alexandria? Glenn Alexandria, pengusaha properti ternama di Indonesia dan juga mancanegara. Velove Alexandria, dokter bedah kepala terbaik di rumah sakit ternama di Indonesia, bahkan namanya sudah tercantum di Forbes sebagai salah satu wanita berpengaruh di dunia. Tapi, coba kamu liat! Anaknya tetap jadi nomor 1 di sekolah bahkan setelah peristiwa buruk yang ia alami.. Dan mama mau kamu seperti dia, Alana. Mama mau kamu serius, minimal nilai kamu gak anjlok banget kayak gini," ucap sang ibu panjang lebar, namun Alana hanya mengangguk-angguk sambil memandangi hapenya tak peduli. 

"Ma, Alana dan Altar itu beda. Dan sampai kapanpun aku gak bisa seperti dia. Lagian ya, ma, meskipun aku gak secerdas Altar, gak sekeren Alegori dan Metafora yang katanya 'The Iconic Duo'  itu atau sehebat Brian maupun Michelle, aku tetep siswa terpopuler di Galapagos. Dan itu gak bisa diganggu gugat. Udah lah, ma, aku gak mau bahas ini lagi. Bye." Kemudian Alana pun pergi melewati ibunya dan berjalan keluar menuruni anak tangga menuju garasi rumahnya. 

Perempuan berambut panjang itu pun langsung menaiki mobil lamborghini miliknya, dan pergi meninggalkan perumahan mewah itu.


Altar dan Alana (Part 2)

Baik Altar maupun Alana sudah sampai di sekolahnya. Alana langsung memarkirkan mobil mewahnya di parkiran khusus anak-anak Pandora, sedangka...