Selasa, 14 Mei 2019

The Dark City


"Christina, wake up !" seru seorang lelaki berperawakan tinggi dari arah pintu kamar.

Perempuan yg disapa Christina itu hanya membuka mata setengah, melihat sebentar ke arah laki-laki tadi, lalu kembali tidur dengan nyamannya. Seolah ia tak peduli dengan panggilan saudara kembarnya itu.

"Christina, banguuun ! Kau tidak lihat ini sudah jam berapa ? Ini sudah jam 10 pagi, Chris.. Come on, we have to go." Kali ini lelaki itu menghampiri Christina di ranjangnya.

"Aaaah, Michael, aku masih ngantuk, kau mengganggu saja huh," geram perempuan itu lalu bangun dari tidurnya dengan ekspresi yang malas dan kesal.

"Salah kau sendiri, kenapa semalam tidak tidur tepat waktu ? Sudahlah, cepat bangun, lalu mandi, bersihkan badanmu yang bau itu !" perintah Michael pada kakak kembarannya, yang langsung dibalas dengan lemparan bantal tepat ke wajah bermanik hijau itu.

"Enak saja katamu, bau apa ? Kau yang bau ! Dasar adik kurang ajar!" sahut Christina semakin kesal.

"Kita hanya berbeda satu menit, jangan terlalu bangga. Sudahlah, aku tunggu di bawah. Ingat ! Hanya sepuluh menit, tidak lebih, oke ?" kata sang adik sambil berjalan pergi meninggalkan kamar.

"Yes, mr. President." Kalimat satir itulah yang selalu Christina ucapkan ketika sang adik memerintahnya. "Dasar adik menyebalkan."

Tak butuh waktu yang lama untuk menunggu Christina selesai menyiapkan segala sesuatunya. Meskipun Michael adalah adiknya, entah kenapa ia selalu mengikuti perintah adiknya tersebut. Christina yakin keputusan sekecil apapun yang Michael buat, pasti adalah keputusan terbaik.

"Good job, sister. Tepat sepuluh menit," ucap Michael sambil melihat jam di pergelangan tangannya lalu tersenyum saat mendapati kakaknya tengah menuruni tangga.

"Hmmm," jawab Christina, tersenyum miring. 

Sang adik hanya tertawa kecil melihat respon dari Christina. "Kau sudah siap ? Pakaian sudah siap ? Pastikan semuanya aman, oke? Karena kalau tidak, kau bisa terbakar sinar matahari di sana," jelas Michael membuat Christina berdecak kesal dan bosan. Mungkin sudah beribu-ribu kali Michael mengatakan hal seperti itu padanya.

"Hey, Michael, tenang saja. Semuanya sudah aman, kok. Kau pikir baru kali ini aku pergi ke Ursula ? Tidak, ya ?"

"Aku tahu, kakakku yang cantik ini sedikit bodoh. Aku hanya khawatir saja kalau kau lupa mempersiapkan segala sesuatunya. Masalahnya kalau terjadi sesuatu padamu di sana, aku tidak akan mempunyai kakak yang menyebalkan dan tukang tidur sepertimu lagi. Sudah cukup mengerti, tuan puteri ?"

"Michael, kau ini..." belum sempat Christina melanjutkan kalimatnya, Michael sudah menyahut begitu saja.

"Sudah, jangan berbicara lagi ! Butuh banyak waktu untuk berdebat denganmu. Kita sudah terlambat, ayo ?" ajak Michael sambil menggandeng tangan kakaknya. 

Christina hanya menurut. 

Mereka berdua pun keluar dari rumah itu. Tak lupa, senter selalu siap sedia di tangan mereka masing-masing. Maklum saja, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Achernar tetaplah kota gelap gulita tanpa sinar matahari. Hanya lampu-lampu rumah dan jalanan saja yang menyinarinya. Itulah yang menyebabkan Michael, Christina dan beberapa penduduk kota Achernar lainya harus menggunakan pakaian yang aman saat bekerja di luar kota seperti Ursula. Tempat tinggal mereka yang selama berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun tak pernah terkena sinar matahari itu menyebabkan tubuh mereka pun sangat sensitif dengan sinar matahari. Jika mereka melakukan hal fatal sedikit pun, kulit mereka akan terbakar dan menimbulkan sakit yang berkepanjangan. Pastinya, mereka tak mau hal itu terjadi. 

"Kalau saja aku tak butuh uang, aku tak rela melewati bukit Altair dalam keadaan gelap gulita seperti ini tiap harinya," celoteh Christina ketika mereka menyusuri lembah bukit Altair untuk sampai ke pelabuhan.

"Sayangnya kita membutuhkan uang untuk hidup," timpal Michael yang berjalan di belakangnya.

Sekitar satu jam mereka berdua berjalan menyusuri jalanan dan bukit Altair. Akhirnya mereka pun sampai di pelabuhan. Di sana sudah terlihat beberapa orang dengan pakaian lengkap yang sudah dirancang dengan aman untuk pergi ke Ursula. Michael dan Christina pun mengambil pakaian itu dari dalam tas mereka masing-masing lalu memakainya, mengikuti penduduk lainnya. Tak lama kemudian, kapal yang akan membawa mereka ke Ursula pun berangkat.

Seperti hari-hari sebelumnya, perjalanan ke Ursula selalu menjadi perjalanan yang menakjubkan. Selama perjalanan di atas kapal, mereka dapat melihat dengan jelas fenomena berubahnya langit dari yang gelap menjadi terang. Hal tersebut menimbulkan gradasi yang begitu indah, membuat siapapun yang melihatnya akan berdecak kagum. Belum lagi dengan penampakan gedung-gedung yang menjulang tinggi di kota Ursula, yang tak pernah mereka lihat di Achernar. Benar-benar memanjakan mata penduduk Achernar yang melihatnya.

Setelah satu jam kapal itu berlayar di atas lautan, akhirnya kapal itu pun berlabuh di pelabuhan Ursula. Satu persatu penumpang turun dari kapal dan berjalan menuju tempat kerja masing-masing. Begitupun dengan Michael dan Christina. Namun, Michael dan Christina  berpisah di persimpangan jalan karena mereka bekerja di tempat yang berbeda dan berjarak cukup jauh. 

"Kita akan bertemu empat jam lagi, tunggu aku di tempat biasa," ucap Michael sebelum pergi meninggalkan sang kakak.

"Yes, brother, hati-hati kau di sana," jawab perempuan bermanik hazel itu sambil tersenyum. Meskipun adiknya menyebalkan, tetap saja Christina sangat menyayanginya.

"Kau juga, bye," jawab Michael lagi dan melenggang pergi menuju tempat dimana ia bekerja.
 
Kini tersisalah Christina di sana, ia pun langsung berjalan menuju toko bunga dimana ia bekerja selama ini. Saat tiba di sana, ia membereskan toko dan mengatur beberapa bunga yang disiapkan di etalase. Ia memastikan bahwa bunga-bunga itu tetap segar dan wangi. 

"Hallo, Christina, kau sudah datang ternyata. Berarti aku tepat waktu untuk pergi ke sini." Tiba-tiba datang seorang lelaki dari arah pintu, mengagetkan perempuan itu.

"Oh, hi, Josh.. Kau mengagetkanku saja. Ada apa ?" seru Christina ketika mendapati siapakah yang datang ke toko bunga tersebut.

"Seperti biasa, satu bucket bunga daisy yang indah untuk perempuan yang begitu luar biasa," jawab Josh tersenyum, memperlihatkan jajaran giginya yang rapi.

"Sudah kuduga, beruntung sekali ibumu mempunyai anak sepertimu, Josh," ujar Christina kagum. "Yasudah, kau tunggu di sini, akan aku siapkan bunga daisymu itu." Christina pun menyiapkan pesanan Josh tadi.

"Okay, I'll be waiting."

Beberapa saat kemudian, ia pun kembali ke hadapan Josh, lengkap dengan bucket bunga daisy berwarna putih. 

"Ini untuk ibumu," kata Christina sambil menyerahkan bunga itu pada Josh.

"Ah indah sekali, thank you, Chris," ucap Josh berterima kasih.

"With pleasure," jawab Christina.

"Yasudah, aku pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Chris," seru Josh dan berlalu pergi dari tempat itu. 

Tak terasa waktu sudang menunjukkan pukul lima sore, artinya pekerjaan Christina hari itu sudah selesai. Wajahnya sudah terlihat lelah karena pesanan bunga hari itu sangat membludak. Bahkan ia dan kedua teman lainnya yang bekerja di sana tak sempat duduk meski hanya sebentar saja.

"Christina, Milan dan Eugene, sekarang kalian boleh pulang. Pekerjaan kalian sudah selesai untuk hari ini, jangan lupa datang lagi esok hari," ucap Mrs. Arletta, pemilik toko bunga tersebut. 

"Thank you, Mrs. Arletta. See you tomorrow."

Setelah Mrs. Arletta mempersilakan Christina dan yang lainnya pergi, Christina pun langsung pergi ke tempat Michael  biasa menjemputnya. Ia duduk di depan sebuah toko yang berseberangan dengan hotel, dekat pelabuhan Ursula berada. Saat tengah asyiknya melihat-lihat sekitar sambil menunggu Michael, tiba-tiba pandangannya terfokus pada suatu benda terang yang baru saja dibuang oleh seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan topi menutupi kepalanya. Dengan perasaan ingin tahu, ia pun menghampiri benda terang yang sudah terbuang dengan rapi di tempat sampah samping hotel tersebut.

"Benda apa ini ?" ujar Christina saat melihat benda itu secara langsung, ia pun mengambilnya.

Ia melihat-lihat sekitar, ternyata lelaki yang membuang benda itu masih berada di sana dan tengah memperhatikannya.
 
"Hei, kau, bisakah kau jelaskan ini padaku ?" seru Christina kepada lelaki itu, sambil memperlihatkan benda terang di tangannya.

Bukannya menjawab, lelaki tadi justru berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Christina yang kebingungan dan juga penasaran dengan apa yang ada di tangannya saat ini. 

"Buku ? Ini buku tentang apa ?" ujar Christina ketika mendapati bahwa benda yang ditemukan olehnya adalah sebuah buku.

Saat asyik membolak balikan buku itu dan melihat-lihat isi di dalamnya, Christina terkejut bukan kepalang dengan apa yang baru saja ia baca dari dalam buku tersebut. Wajahnya terbelalak dengan mata yang masih fokus terhadap kalimat-kalimat yang muncul di hadapannya itu. Namun, tiba-tiba, kegiatannya diinterupsi oleh teriakan seseorang yang begitu ia kenal.

"Christina, sedang apa kau disitu ? Ayo pulang !" ajak Michael yang sudah kembali dari toko alat musik tempatnya bekerja.

"Mike, kesinilah ! Ada sesuatu yang perlu kau tahu," jawab Christina, terlihat serius. Michael pun langsung menghampiri perempuan itu. 

"Ada apa ?" tanya Michael penasaran.

"Lihatlah !" memperlihatkan buku yang bersinar terang di tangannya.

"Oh god, what kind of book this is ?" tanya Michael lagi, terkejut dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. "It's cool," ucapnya lagi dengan takjub sambil membolak balikan buku berkilauan itu.

"Bacalah !" perintah Christina.

"The Dark City ?" ujar Michael, mengerutkan dahinya ketika membaca cover buku itu.

"Cobalah kau lihat halaman pertama buku itu !" perintah Christina lagi.

Michael menurut, ia buka halaman pertama buku itu, ia baca kalimat per kalimat yang ada di sana. Ekspresi yang keluar darinya pun tak berbeda jauh dengan Christina sebelumnya. Menurut Michael, buku itu tidak hanya menarik karena kilauan cahaya yang keluar darinya saja, melainkan goresan tinta menkajubkan yang ada di dalamnya.

"It's impossible."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Altar dan Alana (Part 2)

Baik Altar maupun Alana sudah sampai di sekolahnya. Alana langsung memarkirkan mobil mewahnya di parkiran khusus anak-anak Pandora, sedangka...