Di sebuah rumah kecil yang terletak jauh di dalam hutan, terlihat seorang bocah lelaki sekitar 15 tahun tengah berlatih bela diri di halaman rumahnya. Bersama dengan keenam teman AI-nya, anak lelaki itu terlihat begitu piawai menggerakkan kedua tangan dan kakinya untuk melumpuhkan lawan di depannya. Dengan tendangan dan pukulan yang kuat, para lawan bayangan yang berbentuk hologram itu langsung terjatuh dan menghilang begitu saja, pertanda lawannya sudah kalah, sampai akhirnya hanya menyisakan bocah itu dengan keenam temannya. Bocah bertubuh kurus itu terlihat berbangga diri, dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Hey, Alpha, bagaimana latihanku hari ini ? Hebat, bukan ?" tanya bocah itu kepada salah satu teman AI nya.
"Hari ini kau berlatih dengan sangat baik, tuan Aaron," jawab Alpha, si manusia AI tanpa ekspresi.
"Bagaimana untuk latihan hari esok ? Apakah aku sudah siap menggunakan senjata-senjata api itu ?" tanya Aaron dengan sangat antusias. Anak itu sudah tak sabar memainkan senjata-senjata tersebut seolah dengan senjata itu, wajahnya yang tampan akan terlihat semakin mempesona apalagi dia adalah satu-satunya kandidat untuk menduduki kursi tertinggi di klan Orion. Untuk menjadi pemimpin, dia harus menjadi anak yang paling kuat dan paling ditakuti oleh siapapun, terutama oleh "Mereka".
Tak ada jawaban dari keenam temannya itu. Aaron bertanya lagi, namun hasilnya tetap sama. Keenam temannya tak menjawab sama sekali, hanya memandangnya tanpa berkedip, dengan posisi menghadap Aaron seperti tengah menunggu perintah darinya.
Aaron mendengus kesal sambil menepuk jidatnya, "Ah iya, aku lupa manusia-manusia buatan ini hanya akan aktif kalau aku memanggil namanya. Seharusnya aku meminta paman Mortling membuat manusia buatan yang lebih canggih dan nyata dari pada ini. Baiklah, Alpha, Blue, Charlie, Duo, Extra, Falga.. Apakah besok aku sudah bisa berlatih dengan senjata api ?" tanya Aaron lagi tak sabaran.
"Tidak bisa," jawab keenam manusia AI itu bersamaan.
Aaron terkejut, "Apa ? Kenapa tidak bisa, Extra ?"
"Belum ada perintah untuk melakukan itu," jawab Extra singkat.
"Baiklah, aku akan memerintahkan kalian untuk mengajarkanku menggunakan senjata. Bagaimana, Alpha's team ?"
"Tetap tidak bisa, tuan," jawab mereka bersamaan.
"Kenapa lagi ? Kan sudah aku perintahkan kalian untuk itu. Alpha, kau pemimpin mereka, apa kau tahu kenapa aku tak bisa menggunakan senjata ?"
"Belum ada perintah untuk melakukan itu."
Aaron mengeluh frustasi, "Ah, menyebalkan sekali. Pasti paman Mortling belum menanamkan perintah itu pada tubuh mereka. Ini semua pasti karena ayah belum mengizinkan hal itu, ckck."
"Yasudah, kalau begitu, sekarang temani aku saja melancong. Aku ingin pergi ke daerah selatan pegunungan Merriport. Barangkali aku bisa bertemu dengan "Mereka" di sana. Lalu, aku bisa mempraktikan ilmu bela diriku secara langsung," ucap Aaron asal seolah "Mereka" itu tak berbahaya.
Seperti yang sudah dirancang sebelumnya oleh profesor Mortling, keenam manusia buatan itu langsung mengikuti Aaron kemanapun ia pergi, tanpa mereka mengerti akan melakukan apa. Alpha dan yang lainnya memang hanya diciptakan untuk menemani Aaron dalam melakukan aktivitas serta menjaganya ketika anak itu dalam bahaya. Tidak hanya itu, mereka juga hanya bisa aktif ketika berada di samping anak itu dan juga hanya bisa menuruti perintahnya saja. Jadi, keenam sahabat bocah berambut ikal itu tidak akan bisa diaktifkan oleh siapapun, sekalipun oleh adiknya sendiri, Elektra ataupun ayahnya, Regulus Starr.
Ia pun berjalan meninggalkan rumah kecil miliknya, mengecek sesaat kubah besar yang terletak tak jauh dari tempatnya tinggal, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Bocah 15 tahun itu memang sangat senang melancong, menelusuri hutan Midford ataupun sungai Roseriver adalah hal yang paling ia sukai. Padahal kalau ia mau, ia bisa sampai di sisi selatan pegunungan Merriport hanya dengan menggunakan kereta cepat ataupun mobil tanpa supir miliknya, mungkin akan memakan waktu yang lebih singkat, hanya sekitar 10 menit.
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, ditambah dengan waktu makan dan minum obat, akhirnya Aaron beserta keenam temannya tiba di tempat tujuan一Screaming Forest, tempat yang sangat ingin ia kunjungi selama ini. Screaming Forest adalah tempat terlarang, tidak hanya bagi para petinggi klan Orion namun juga bagi para penduduknya. Bagaimana tidak, hutan dengan pohon-pohon meranti yang menjulang tinggi itu dianggap sebagai portal antara klan Orion dengan tempat tinggal "Mereka" yang sangat berbahaya dan ditakuti sejak ratusan tahun yang lalu. Meskipun "Mereka" tak pernah berhasil masuk ke Orion, tetap saja kubah besar yang memisahkan 2 kehidupan makhluk yang berbeda ini cukup riskan dikarenakan hutan Screaming Forest yang menghubungkan keduanya. Dengan teknologi yang lebih canggih, tak heran jika suatu saat nanti kubah besar itu bisa ditembus oleh "Mereka" dan pastinya hal itu tidak boleh terjadi.
"Akhirnya aku tiba juga di sini. Untung saja akses antara aku dan ayah sudah aku nonaktifkan sejak berlatih tadi. Jadi, ia tak akan tahu kalau aku ada di sini," kata Aaron tersenyum bangga. "Lagipula, kenapa ayah tak menyuruh paman Mortling untuk menanamkan perintah 'menentang' ataupun 'melawan' kepada mereka," lanjutnya sambil melihat ke arah keenam temannya. "Mungkin kalau hal itu dilakukan, mereka akan mencegah kegilaanku."
"Blue, Charlie, Duo, Extra, Falga, berkelilinglah sekitar daerah ini. Barangkali, "Mereka" sudah berhasil menembus kubah besar. Dan kau Alpha, tetaplah di sampigku, kita akan masuk ke dalam," perintah Aaron.
"Baik, tuan."
Saat itu juga, Blue dan yang lain langsung menelusuri sekitar pegunungan Merriport sampai sisi luar hutan Screaming Forest. Sedangkan Aaron dan Alpha masuk ke dalam hutan tersebut. Baru saja masuk beberapa langkah, kengerian sudah terasa. Malam membuat hutan itu semakin mencekam, meskipun bintang-bintang di galaksi tetangga tengah bersinar di atas sana. Hutan yang memang tak pernah dikunjungi selama beratus-ratus tahun itu terasa begitu sepi dan sunyi. Bahkan, saking sepinya, deruan nafas Aaron yang menggebu terdengar begitu nyaring di telinga. Dan hal tersebut semakin menambah rasa ingin tahunya dan berjalan semakin dalam. Sampai akhirnya, langkahnya terkunci pada satu arah. Di tengah hutan belantara yang begitu sepi, terlihat satu benda terang di sisi kiri hutan, tak jauh dari kubah besar.
Dengan penasaran, Aaron pun mendekati benda itu, diikuti oleh Alpha.
Setelah sampai di sana, matanya menyipit, "Pedang ?" ucapnya bingung ketika mendapati pedang tertancap di sebuah batu besar.
Pedang yang tertancap di sana terlihat begitu kuno, namun indah. Cahaya terang tadi yang dilihat olehnya ternyata hanyalah pantulan dari bintang-bintang dilangit Andromeda yang seolah mengisi nyawa pada pedang itu. Bilah pedang yang mengkilat seperti kristal dan gagang dari perunggu dengan ukiran-ukiran yang belum pernah dilihat olehnya terasa begitu menarik.
"Alpha, bisakah kau membantuku ? Tolong cabut pedang itu dari sana, aku belum cukup kuat untuk melepaskan benda yang entah sudah berapa lama menancap di batu itu," perintah Aaron kepada Alpha.
"Baik, tuan."
Alpha pun mencoba untuk mencabut pedang itu dari tempatnya sekarang. Dengan tenaga yang sangat kuat, Alpha mencoba mengeluarkan benda itu. Namun, ternyata benda itu tetap tak mau berpindah tempat. Alpha mencoba lagi dan lagi, hasilnya tetap sama. Pedang itu tak bergerak meski hanya 1 mm.
"Maaf tuan, aku tidak bisa," kata Alpha yang akhirnya menyerah.
"Bagaimana bisa ? Ah kau ini, yasudah, aku akan panggil yang lainnya," ucap Aaron. Namun, sesaat sebelum ia mengaktifkan TBT (Terranian Base Technology) yang ada di tubuhnya, ia baru ingat kalau TBT nya sedang dinonaktifkan untuk beberapa waktu ke depan.
"Alpha, kau saja yang hubungi. Hubungi teman-temanmu yang lain."
"Baik, tuan."
Dalam waktu sekejap, Blue dan yang lain pun tiba di sana sesuai dengan perintah Alpha. Blue sampa Falga pun mencoba untuk mencabut pedang itu dari batu yang menempanya. Namun, hasilnya tetap sama. Pedang itu tetap tertancap di sana tak peduli seberapa kekuatan yang dikeluarkan oleh para manusia buatan itu. Hal itu pun membuat Aaron frustasi dan kesal, bagaimana mungkin teman-temannya yang diciptakan untuk menjadi orang yang sangat kuat tak bisa melakukan hal itu.
"Ah, kalian benar-benar payah. Bagaimana ini ?" pikir Aaron. "Apa aku yang harus melakukannya ? Ah.... bagaimana mungkin ? Mereka saja tak bisa melakukannya, apalagi aku yang bertubuh kurus, kecil seperti ini, hmmm," katanya bingung. "Tapi, aku tetap harus mencobanya. Aku harus membawa pedang ini ke ayah, mungkin ayah tahu soal ini."
Dengan ragu, Aaron pun mencoba mencabut pedang itu. Dan.... ajaib, pedang itu benar-benar terlepas hanya dengan satu kali tarikan dan pastinya tak begitu kuat. Setelah terlepas dari batunya, tiba-tiba bilah pedang itu bersinar hijau dari sudut bilah sampai ke ujung gagangnya lalu menghilang, seolah pedang itu sudah diaktifkan. Aaron kebingungan melihat hal itu, pedang yang menurut temannya begitu sulit untuk dilepaskan, terasa begitu mudah dan ringan olehnya bahkan Aaron merasa bahwa ia bisa mengendalikan pedang itu dengan sangat baik. Ia pun menguji pedang itu dengan cara bertarung dengan teman-temannya. Aaron semakin dibuat bingung juga penasaran, karena ia yang belum pernah berlatih pedang sama sekali, bahkan melihat bentuk aslinya saja belum pernah, hanya melalui gambar saja, tapi tiba-tiba ia bisa begitu piawai memainkan benda itu.
"Ini benar-benar luar biasa. Ayo kita kembali ke Winterhaven."
***
Regulus Starr benar-benar dibuat pusing oleh putera sulungnya. Bagaimana tidak, puteranya yang sejak tadi menghilang dari jangkauannya tiba-tiba datang menemuinya di tengah malam dengan mengabarkan bahwa ia baru saja kembali dari Screaming Forest, tempat yang paling dihindari oleh seluruh penghuni Orion. Ditambah lagi dengan pedang yang dibawanya, yang entah dari mana asalnya.
"Jadi, itu alasanmu menonaktifkan aksesmu, Aaron ? Kami semua kebingungan, karena penonaktifan itu, kami tak bisa melacakmu sama sekali. Meskipun Alpha bersamamu, tetap saja penonaktifan TBT mu mempengaruhi mereka," kata Regulus sambil mengusap peluh di dahinya.
"Maafkan aku, Ayah. Aku terpaksa harus melakukan itu. Kalau aku bilang, kau pasti tak akan mengizinkanku untuk pergi ke sana," ucap Aaron sambil menunduk menyesal telah membuat semua orang kebingungan dan repot mencarinya.
Regulus menghela nafas, "Itu sudah pasti. Kau memilih tinggal jauh dariku saja sudah membuatku gila, apalagi kalau harus melihatmu pergi ke sana ? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu ? Bukan hanya soal makhluk-makhluk itu, tapi juga kesehatanmu, Aaron. Bukankah kau tak pernah mau masuk ke ruangan putih itu ?"
"Tidak mau, Ayah. Aku tak mau dirawat lagi."
"Kalau begitu, patuhlah. Aku mengizinkanmu untuk tinggal di hutan karena aku masih bisa memantaumu. Tapi, kalau kau seperti ini, aku jadi khawatir," kata Regulus cemas.
"Maafkan aku, Ayah, aku berjanji takkan mengulanginya lagi," ucap Aaron menatap tulus kedua manik ayahnya.
Regulus menghela nafas, "Baiklah, aku memaafkanmu. Tapi, malam ini kau tidur di sini, ya ? Elektra sangat merindukanmu."
Aaron mengangguk dan tersenyum.
Setelahnya, Regulus pun mengalihkan pandangannya ke pedang yang tergeletak di atas meja. Pedang yang menurut puteranya itu sangatlah mencurigakan.
"Oh iya, kau mendapatkan pedang itu di Screaming Forest ?" tanya Regulus pada anaknya.
"Iya, benar, Ayah. Tak jauh dari kubah besar."
"Coba Ayah lihat," pinta Regulus pada Aaron untuk menyerahkan pedang itu.
Aaron pun segera menyerahkannya. Namun, saat Regulus akan memegang pedang itu, tiba-tiba saja pedangnya terjatuh ke lantai. Dengan sigap, pria itu pun mengambilnya dari lantai. Regulus menatap Aaron dengan bingung, lalu beralih ke arah Mortling yang sejak tadi menemani perbincangan mereka.
"Ada apa, Ayah ?" tanya Aaron bingung.
"Pedang ini tak mau terangkat, ada apa ini ?" ucap Regulus semakin bingung, ia terus menerus mencoba, namun hasilnya tetap sama, pedang itu tetap berada pada posisinya.
"Tuan Aaron, cobalah ambil pedang itu sekarang." Kali ini Mortling lah yang berbicara.
Aaron pun mengambil pedang itu dengan sangat mudah, lalu meletakannya kembali di atas. "Aku pikir hanya Alpha dkk saja yang tak bisa mengendalikan pedang ini, ternyata Ayah juga tak bisa ? Benar-benar membingungkan."
"Sebenarnya apa yang terjadi ? Mortling, apa kau tahu sesuatu ?" tanya Regulus pada kepala yang menciptakan segala macam teknologi di Orion.
"Sejujurnya, aku bingung harus menjawab apa. Ini benar-benar di luar kendali akal sehat manusia. Tapi, apa mungkin makhluk-makhluk di luar sana yang selalu memaksa masuk adalah karena benda ini ? Benda ini lah yang mereka incar. Bagaimana pun juga, kitalah yang merebut tempat ini dari mereka, mungkin pedang ini milik leluhur mereka dan mereka ingin mendapatkannya kembali. Namun, aku tak tahu kenapa hanya tuan Aaron yang bisa mengendalikan pedang ini. Ini benar-benar sulit dicerna, seperti dalam dongeng saja," jelas Mortling.
"Apa mungkin pedang ini mencari pemiliknya ?" tanya Regulus. "Tapi, mengapa anakku ? Ia bahkan masih kecil, dan bahkan belum pernah memegang pedang sama sekali. Mengingat, selama ini kita menjauhkan diri dari berbagai macam persenjataan zaman dahulu."
Mortling terdiam beberapa saat, mencoba mencerna keadaan. "Ya, kau mungkin benar, tuan Regulus. Ada kemungkinan pedang ini memang mencari pemiliknya, orang yang sangat pantas mendapatkan pedang ini. Seperti yang kita tahu, sesuatu yang besar hanya akan dimiliki oleh mereka yang kuat dan mampu bertahan. Meskipun tuan Aaron tidak kuat secara fisik, tapi keberaniannya tak bisa diragukan lagi. Itulah yang membuat pedang itu memilih dirinya. Mungkin ini hanya dugaanku saja, tapi apapun bisa terjadi, bukan ?" jelas Mortling panjang lebar, membuat Aaron dan ayahnya terkejut tak percaya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang ?" tanya Aaron, melihat ke arah ayahnya, lalu beralih ke profesor Mortling.
"Jagalah pedang itu, jangan biarkan "Mereka" mendapatkannya."