“Ma..
Pa.. kami berangkat dulu ya,” ucap Freja lalu memeluk kedua orang tuanya secara
bergantian dan disusul oleh Einar.
“Iya, jaga diri kalian baik-baik ya! Ingat jangan
merepotkan tante Andraya di sana,” jawab Mama Dylan kepada putri sulungnya tersebut.
“Oh
iya, mama sampai lupa. Fre, jaga adikmu ini ya ! jangan sampai ia berbuat
macam-macam di sana,” lanjut mamanya sambil melirik Einar, sang putra bungsu
yang kini berdecak kesal.
“Ckck Come on mom,
aku sudah dewasa sekarang, jadi tidak perlu dijaga-jaga lagi, apalagi oleh
Freja,” jawab Einar yang tidak terima mamanya masih memperlakukannya seperti
anak kecil. Mamanya hanya tersenyum melihat kelakuan anak bungsunya itu.
“Ya
sudah, sebaiknya kalian segera pergi dari sini. Sebentar lagi pesawat kalian akan segera berangkat,
bukan ?” kali ini Papa Julian yang berbicara.
Kedua kakak beradik itu mengangguk. “See you next week mom, dad,” ucap Freja
dan Einar bersamaan seraya melangkahkan kaki mereka menuju gate tempat mereka akan segera diberangkatkan menuju Barkenburgh.
Di
dalam pesawat, mereka segera duduk di kursi masing-masing. Freja yang memang
senang melihat awan secara dekat memilih duduk di sisi jendela lalu disusul
oleh Einar di sebelahnya. Tepat di samping Einar, duduklah seorang wanita paruh
baya sekitar lima puluh tahunan.
“Tujuan kalian kemana?” tanya wanita di sebelah Einar
membuka percakapan setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit.
“Ke Barkenburgh, Bu,” jawab Einar asal, sedangkan
matanya masih tertuju kepada ponsel pintar di hadapannya yang memperlihatkan
game yang sedang naik daun saat ini yaitu Mobile Legend.
Dalam hati, Freja berkata, “Oh Tuhan, mengapa Kau berikan kepadaku adik sebodoh ini?” seraya
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana tidak, anak kecilpun tahu
bahwa pesawat yang mereka naikki memang menuju kota Barkenburgh.
“Ya ibu tahu, memang seluruh penumpang di sini ingin
ke Barkenburgh, Nak,” jawab wanita itu sedikit terkekeh. “Maksud ibu, tujuan
kalian ke distrik mana?” lanjutnya lagi.
“Oh begitu? Aku tidak tahu, tanya saja pada kakakku,”
jawab Einar melihat sedikit ke arah wanita tadi lalu kembali kepada ponsel
pintarnya.
”Maaf ya, Bu, adik saya memang seperti itu. Maklum
kalau sudah bermain game kesukaannya
ia pasti lupa akan segalanya.” Freja menimpali sambil tertawa kecil.
“Oh ya tidak apa-apa, Nak, Ibu mengerti. Oh iya, tadi
kalian ingin pergi ke distrik mana ?” tanyanya lagi.
“Distrik Estervile,” jawab Freja tersenyum.
Setelah
Freja menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba suasana menjadi hening. Ibu tadi
yang pada awalnya terkesan cerewet menjadi diam seribu bahasa. Entah apa yang
sedang dipikirkannya. Lalu, tidak sampai lima menit, ibu itu pun memanggil
pramugari untuk meminta dipindahkan tempat duduknya. Melihat hal itu, Freja
menjadi bingung. Apakah ia mengatakan hal yang salah? Atau
mungkin perlakuan Einar tadi membuat ibu itu tidak nyaman? Semuanya terlihat
begitu janggal, namun Freja membuang segala pikiran yang ada di benaknya
tersebut lalu ia memilih untuk tidur sementara Einar masih sibuk dengan ponsel
pintarnya bahkan ia tak sadar kalau wanita di sampingnya telah pergi dari
tempatnya.
Tanpa
Freja dan Einar sadari, di samping kanan tempat duduk mereka, ada sepasang mata
yang tengah memperhatikan. Manik mata birunya yang begitu tajam seolah-olah
mengisyaratkan sesuatu yang ingin ia katakan kepada Freja dan juga Einar. Namun,
tentunya hal itu akan sulit dan kedua anak itu pastinya tidak akan mudah
percaya pada perkataanya.
Setelah menunggu hampir dua jam,
akhirnya Freja dan Einar pun sampai di kota Barkenburgh. Di pintu kedatangan,
sudah terlihat Tante Andraya yang sedang menunggu mereka sambil membawa secarik
kertas bertuliskan Freja dan Einar. Di sampingnya telah berdiri seorang pria
berperawakan tinggi dan tampan, mata biru yang dimiliki olehnya seakan mampu
menarik hati wanita manapun, ditambah lagi dengan hidung mancung yang semakin
menambah aura ketampanannya.
“Akhirnya kalian sampai juga, bagaimana kabar kalian
sekeluarga? Sudah lama Tante tidak berkunjung ke Oslo,” sapa Andraya ketika
Freja dan Einar menghampirinya.
“Kami baik-baik saja, Tante,” jawab Freja.
“Oh syukurlah. Oh iya, perkenalkan, ini Tobias Alexander, kekasih Tante,” ucapnya sambil
memperkenalkan lelaki di sampingnya.
“Freja Anderson,” ucap Freja memperkenalkan diri
sambil menyalami Tobias dan hal yang sama dilakukan pula oleh Einar.
“Baiklah, sepertinya kalian sudah lelah. Sebaiknya
kita segera ke rumah Tante saja dan kalian bisa beristirahat di sana,” ajak
Andraya lalu disetujui dengan anggukan kedua keponakannya tersebut.
Perjalanan
yang mereka tempuh lumayan lama, mungkin sekitar satu jam dari bandara. Di tengah
perjalanan, mereka berbincang sambil menceritakan pengalaman masing-masing.
Einar sibuk bercerita tentang rencana kuliahnya ke luar negeri sedangkan Freja
sibuk bercerita tentang kisah cintanya yang begitu rumit. Andraya pun bercerita
tentang kehidupan barunya di Barkenburgh. Di setir pengemudi, Tobias hanya
mendengarkan tanpa berkata sedikitpun, namun sesekali ia melirik kaca spion di
depannya yang memperlihatkan wajah kedua keponakan dari kekasihnya tersebut
sambil sesekali tersenyum.
Sesampainya
di rumah Andraya, Freja dan Einar langsung makan malam, mandi lalu istirahat.
Einar yang memang sangat lelah karena belum tidur seharian ini pun langsung
tertidur pulas. Melihat itu Freja segera menghampiri Einar. Dielusnya dengan
lembut puncak kepala adiknya tersebut, terlihat sekali bahwa Freja sangat
menyayangi Einar. Ia jadi teringat pada pesan ibunya sebelum mereka berdua berangkat
ke Barkenburgh, yaitu untuk menjaga adiknya. Entah mengapa pesan itu seperti
sebuah perintah yang memang harus Freja laksanakan. Selama ini ia tidak pernah
menganggap serius pesan yang selalu disampaikan padanya setiap kali ia akan
bepergian dengan adiknya. Namun, kali
ini entah mengapa timbul perasaan khawatir dalam diri Freja kalau ia tidak bisa
menjaga adiknya seolah-olah akan terjadi sesuatu pada dirinya dan Einar.
Terlebih lagi dengan kejadian di pesawat tadi yang belum Freja lupakan
sepenuhnya. Begitu banyak pertanyaan di benaknya yang ia biarkan menggantung
tanpa memperoleh jawaban apapun.
Keesokan
harinya, Andraya dan ditemani oleh Tobias mengajak Freja dan Einar untuk pergi
mengelilingi distrik Estervile, melihat segala keindahan yang distrik ini
sajikan kepada mereka.
“Aku dengar dari beberapa orang bahwa distrik ini
dulunya adalah distrik termiskin, betul?” tanya Einar sambil melihat-lihat
sekeliling. “Namun sekarang telah menjadi distrik yang maju dan bahkan mampu
bersaing dengan distrik lainnya. Mengapa bisa seperti itu?” lanjutnya.
“Ya, memang pada masa kepemimpinan sebelumnya distrik
ini menjadi distrik yang paling miskin di Estervile. Namun, setelah kedatangan
Tobias semuanya menjadi berubah. Cara yang ia mainkan benar-benar mampu membuat
distrik ini menjadi lebih maju,” jelas Andraya sambil melirik Tobias yang
dibalas dengan senyuman oleh pria dengan rambut coklat gelap itu.
“Jadi, kau adalah pemimpin distrik ini?” tanya Einar
pada Tobias dan dijawab dengan anggukan saja oleh pria itu. “Lalu cara apa
memangnya yang kau mainkan sehingga distrik ini bisa menjadi maju seperti ini?”
tanyanya lagi. Raut muka Tobias seketika berubah ketika mendengar pertanyaan
tadi.
“Kau tidak akan mengerti cara yang kumainkan dan
sebaiknya kau tidak perlu mengerti,” jawab Tobias dengan tenang namun begitu
menusuk.
“Ah,
kau pelit sekali tidak mau berbagi. Aku kan hanya ingin tahu saja, soalnya ini
benar-benar luar biasa. Menurutku,
lima tahun belumlah cukup untuk bisa memajukan distrik ini. Tapi, buktinya kau bias
melakukannya. Apa jangan-jangan kau melakukan cara yang tidak wajar ?” tuduh Einar
dengan mata mesnyipit. Anak itu benar-benar tidak ada takutnya.
“Einar,
cukup! Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Tobias,” tegur Andraya.
Yang di tegur pun hanya menoleh lalu pergi begitu saja.
“Maafkan adikku, ia tidak bermaksud berbicara seperti
itu.” Kali ini Freja yang berbicara.
“Tidak apa-apa, aku mengerti,” jawab Tobias santai
namun jelas sekali dari sorot matanya menunjukkan bahwa ia merasa kesal kepada
Einar.
Setelah
mendapat jawaban tersebut, Freja permisi untuk menyusul adiknya. Ia sedikit
menasihati Einar untuk tidak bersikap seperti itu karena itu sangatlah tidak
sopan. Apalagi ia belum mengenal Tobias lebih dekat. Namun, Einar bersikukuh
bahwa yang ia lakukan adalah wajar, ia hanya ingin tahu saja dan tidak ada
maksud lain. Tak bisa dipungkiri apa yang Einar katakan memang benar,
sejujurnya Freja pun merasa penasaran dengan cara yang Tobias mainkan untuk
membuat distrik Estervile ini menjadi maju dalam kurun waktu lima tahun. Waktu
yang terbilang cukup singkat untuk memajukan distrik yang begitu miskin. Namun,
tetap saja Freja meminta Einar untuk meminta maaf pada Tobias ketika makan
malam nanti. Einar pun menyetujui. Setelahnya, mereka berdua pun berjalan
melihat-lihat pemandangan sekitar distrik tersebut.
Di
tengah perjalanan, mereka bertemu dengan warga distrik Estervile. Warga-warga
tersebut sedang bekerja dengan begitu giat sampai-sampai mereka tidak menyadari
kedatangan Freja dan Einar. Terlihat barisan lelaki usia remaja sampai dewasa
tengah membawa gerobak yang telah terisi penuh dengan tembaga dan hasil
pertambangan lainnya untuk dipindahkan ke dalam truk lalu dibawa ke pusat kota.
Memang, Barkenburgh terkenal dengan sumber daya alam yang begitu kaya. Melihat
pemandangan itu, baik Freja maupun Einar merasa sangat takjub dengan semangat
para warga ketika bekerja dalam memajukan distriknya. Tak
terasa senyuman pun terlukis di bibir Freja dan juga Einar.
Malamnya, seperti biasa mereka makan
malam bersama. Namun, ada hal yang berbeda dari malam sebelumnya, mereka
terlihat begitu diam. Mungkin hal itu berakibat dari kejadian siang tadi. Freja
yang duduk sebelah Einar menyikut lengan kanan Einar, mengisyaratkan padanya
untuk meminta maaf pada Tobias atas perbuatannya tadi siang, dan hanya dibalas
anggukan oleh adiknya.
“Tobias,
maafkan aku atas sikapku tadi siang. Aku benar-benar tidak bermaksud mengatakan hal itu padamu. Dan … Tante
Andraya, maafkan aku juga,” ucap Einar menyesali perbuatannya.
“Tidak apa-apa Einar, tapi tolong jangan pernah
menanyakan hal itu lagi padaku. Mengerti?” pinta Tobias.
“Ya aku mengerti, dan aku juga sudah melihat semuanya,
ternyata warga-warga yang bekerja di daerah pertambangan sangatlah giat. Mereka
seperti tidak mengenal lelah. Aku menjadi kagum padamu karena telah membuat
mereka semangat seperti itu,” puji Einar
pada Tobias.
“Terima kasih, Einar.” Senyuman dingin yang dimiliki
oleh Tobias terlukis di wajahnya.
“Sudah, sudah, aku senang kau sudah menyadarinya dan
aku juga sudah memaafkanmu, Einar,” timpal Andraya dengan senyum cantiknya.
“Oh iya, kalau boleh aku tahu, kau di sini tinggal
seorang diri seperti Tante Andraya?” tanya Freja kepada Tobias untuk mencairkan
suasana.
“Sebetulnya aku mempunyai adik laki-laki. Namun,
sudah empat tahun ini aku tidak bertemu dengannya. Terakhir kali aku
melihatnya, dia sangatlah kecewa kepadaku dan memilih untuk pergi
meninggalkanku,” jawab Tobias panjang lebar, terlihat sekali dari raut mukanya
kalau ia sangatlah sedih.
“I’m
sorry to hear that,”
sesal Freja karena telah menanyakan hal tersebut pada Tobias.
“Yes,
no problem,” jawab
Tobias, senyuman kecil mengembang di sana.
Hari
berikutnya, Freja dan Einar memutuskan untuk pergi ke pantai yang tak jauh dari
kediaman Andraya. Mereka berdua ingin melihat pemandangan laut Estervile
sekaligus melihat bagaimana para nelayan-nelayan bekerja untuk mendapatkan
bahan makanan bagi seluruh warga di distrik tersebut. Tak sampai dua puluh
menit, mereka pun telah sampai ke bibir pantai. Dilihatnya para nelayan dari
jauh yang tengah berusaha menarik ikan-ikan hasil tangkapannya dalam sebuah
jaring. Freja dan Einar begitu kagum melihatnya. Namun, tiba-tiba mereka
menyadari ada hal yang janggal dari para nelayan tersebut. Mereka tidak
terlihat senang layaknya nelayan-nelayan lain jika mendapatkan ikan yang banyak.
Semakin Freja dan Einar selidiki, para nelayan tersebut hampir tidak memiliki
ekspresi sama sekali.
“Fre, apakah kau merasakan apa yang kurasakan?” tanya
Einar pada Freja.
“Ya aku pun merasakan hal yang sama. Ini benar-benar
aneh,” jawab Freja tak percaya akan pemandangan yang tengah dilihatnya
tersebut.
“Ada yang salah dengan orang-orang itu, Fre. Kita
harus mencari tahu!” ujar Einar.
“Sepertinya bukan hanya orang-orang itu, melainkan
tempat ini. Sudah kuduga sejak awal memang ada yang tidak beres. Bahkan
semenjak kita berada di pesawat aku sudah mencurigainya,” tutur Freja dengan
jelas.
“Maksudmu?” tanya Einar heran.
“Ya, sebetulnya wanita yang duduk di sebelahmu itu
pergi setelah ia mendengar aku mengatakan bahwa kita akan pergi ke distrik
Estervile. Sejak saat itu semuanya menjadi janggal, apalagi setelah ucapan
Tobias tempo hari mengenai cara yang ia mainkan,” jelas Freja panjang lebar.
“Jadi, ibu itu pergi karena kau menjawab hal itu?”
tanya Einar heran.
“Iya, Bodoh, makanya kau jangan bermain game saja sampai-sampai kau yang di
sampingnya pun tidak sadar akan hal itu,” seru Freja, kesal.
“Game
is a part of my life,
jadi kau tidak bisa menyalahkan itu,” sahut Einar dengan percaya dirinya.
“Ya
sudahlah terserah kau saja.”
“Lalu
bagaimana ini, Fre? Bagaimana kalau tempat ini benar-benar tidak beres?” tanya
Einar kembali ke topik pembicaraan yang semula.
“Lebih
baik kita pulang saja, tidak baik untuk kita jika berlama-lama di tempat yang
seperti ini,” usul Freja.
“Tidak, Fre, aku ingin memastikan semuanya terlebih
dahulu. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat pertambangan kemarin?”
“Untuk apa?” tanya Freja bingung.
“Memastikan apakah pekerja di pertambangan itu sama
seperti nelayan-nelayan tersebut atau tidak,” jelas Einar menggebu sambil
menunjuk para nelayan yang tanpa ekspresi tersebut.
“Baiklah, ayo kita pergi ke sana.” Akhirnya Freja
setuju untuk memastikan semuanya meskipun hatinya merasa khawatir.
Mereka
pun pergi ke tempat pertambangan yang kemarin dan benar saja seluruh pekerja di
sana tidak memiliki ekspresi. Ekspresi mereka benar-benar datar dan yang paling
membingungkan ternyata mereka bekerja sepanjang hari tanpa berhenti. Hal itu
terlihat dari pakaian yang mereka kenakan. Mereka mengenakan pakaian yang sama
seperti pakaian di hari sebelumnya. Freja dan Einar semakin dibuat bingung
dengan hal itu. Bahkan menurut Einar, apa yang ia lihat belakangan ini seperti
sebuah teka-teki yang harus mereka pecahkan.
Setelah
mengetahui hal itu, Freja selalu berusaha membujuk Einar untuk pulang ke Oslo.
Sejujurnya, ia khawatir jika mereka menyelidiki semua kejanggalan tersebut akan
membahayakan nyawa mereka sendiri. Namun, Einar yang memang keras kepala tetap
bersikukuh untuk mengungkap semuanya. Ada apa dengan distrik Arendal? Mengapa warga distrik ini bersikap aneh?
Apakah semua itu ada sangkut pautnya dengan kata-kata Tobias kemarin? Semuanya
benar-benar membuat Freja pusing. Sebenarnya, ia pun ingin menyelidiki hal
tersebut namun rasa takutnya mengalahkan rasa ingin tahunya.
“Einar, apakah kau tidak ingin pulang saja ke Oslo?
Jujur aku takut. Tolong jangan diteruskan lagi, aku tidak ingin terjadi sesuatu
padamu atas keingintahuanmu ini,” ucap Freja mengungkapkan semua
kegelisahannya.
“It’s
gonna be okay, Fre. Don’t worry I’ll be okay,” jelas Einar berusaha menenangkan kakaknya.
“Promise
me?”
“Yes,
I promise,” jawab
Einar sambil tersenyum.
***
Hari
ini adalah hari kelima Freja dan Einar berada di distrik Arendal dan juga hari
ketiga setelah mereka merasakan kejanggalan dalam distrik tersebut. Sudah tiga
hari mereka menyelidiki semuanya namun tidak kunjung mendapatkan jawaban yang
tepat. Sesekali Freja menyerah dan meminta kepada Einar untuk pulang saja ke
Oslo karena semakin hari keadaan semakin rumit. Bahkan kemarin sore, ketika
Freja dan Einar pergi ke luar rumah, semua mata tertuju pada mereka. Tatapan
yang begitu menusuk seolah-olah ada sesuatu yang aneh pada diri Freja dan Einar
yang tidak mereka sukai. Di tengah kegelisahan Freja, tiba-tiba Einar datang
membawa berita yang ingin ia ketahui dan juga ia takuti.
“Fre aku berhasil masuk ke dalam kamar Tante Andraya
dan menemukan ini,” ucap Einar sambil menunjukkan sebuah buku diary milik tantenya tersebut. Memang
sudah dua hari ini Andraya dan Tobias tidak ada di distrik Arendal karena ada
urusan di distrik Avenus, jadi dapat dengan mudah Einar mengambil buku tersebut
tanpa peduli risiko yang akan ia dapatkan jika Andraya ataupun Tobias
mengetahuinya.
“Coba kulihat, kau yakin semuanya ada di sini?” tanya
Freja.
“Aku tidak tahu, karena ini hanya sebuah diary biasa, tapi kenapa tak kita coba
saja.”
“Baiklah, ayo!”
Mereka
membuka lembar per lembar buku tersebut. Awalnya, buku itu tidak menunjukkan
sesuatu yang janggal, selayaknya buku harian biasa. Namun di tengah halaman
barulah terungkap apa yang terjadi di distrik Estervile.
Estervile,
7 Juli 2020
Hari
ini aku sangat senang, eksperimen Tobias membuahkan hasil. Ia telah membuat
vaksin yang ia bilang akan membuat warga menuruti perintahnya dan membuat
distrik ini menjadi makmur. Hari ini semua warga datang untuk mendapatkan
vaksin tersebut dengan dalih mendapatkan vaksin kesehatan. Meskipun aku agak
tidak setuju dengan rencana ini, tapi aku sangat mencintainya, jadi aku rela
melakukan apapun.
Semakin mereka membaca lebih jauh, mereka semakin
menemukan kengerian lainnya di balik keanehan Estervile. Freja dan Einar
menemukan kembali halaman yang lebih mengejutkan dari sebelumnya.
Estervile,
12 Desember 2023
Akhirnya
Tobias berhasil membuat Arendal menjadi distrik yang maju. Seluruh warga
benar-benar menuruti perintahnya dan bekerja sangat-amat giat. Mereka tidak
peduli pada apapun selain bekerja, hingga sekarang distrik ini mulai dikenal
oleh penduduk di pusat kota. Semua ini berkat vaksin tersebut dan sekarang ia
akan membuatnya menjadi lebih banyak lagi. Aku
takut terhadap hal ini, namun demi Tobias, aku tidak bisa berbuat apapun.
Melihat hal itu, baik Freja maupun Einar sangat tidak
percaya. Ternyata semua kejanggalan di distrik ini adalah ulah Tobias dan yang
paling membuat mereka tidak percaya adalah tantenya pun termasuk dalang dari
semua ini. Tanpa pikir panjang lagi, Freja langsung mengajak Einar untuk
kembali ke Oslo dan kali ini Einar menyetujuinya.
Tanpa
mereka sadari, ternyata perbuatan Einar telah terekam oleh CCTV yang berada di
kamar Andraya dan rekaman tersebut terhubung langsung pada ponsel sang pemilik,
sehingga Andraya dan Tobias langsung mengetahuinya dan memutuskan untuk kembali
ke Estervile. Tobias benar-benar sangat marah. Bahkan ketika ia sampai di
rumah, ia langsung berteriak-teriak memanggil nama Einar namun tak kunjung
menemukannya. Hingga akhirnya, ia berjalan ke arah pintu belakang dan berhasil
menemukan Einar juga Freja yang telah bersiap-siap untuk pulang ke Oslo. Tobias
langsung menarik Einar ke hadapannya, ditariknya kerah baju lelaki tersebut
lalu ia pukul wajah dan tubuhnya tanpa ampun, menyisakan erangan dari mulut
pria yang bertubuh atletis itu.
“Sudah kubilang jangan sekali-kali kau mencari tahu
cara yang kumainkan. Tapi mengapa kau tetap saja mencarinya, Bodoh?” teriak
Tobias di hadapan Einar. Einar diam terpaku di hadapannya, mata hazel miliknya
mulai terlihat sayu.
Andraya yang melihat kejadian tersebut hanya diam
saja, seolah-olah ia tidak peduli akan nasib Einar. Bahkan jika Einar akan
meninggal di tangan Tobias pun, ia sama sekali tidak akan terlihat
menyesal. Sedangkan Freja menangis
melihat hal itu, terlebih lagi tangan Freja telah digenggam dengan sangat erat
oleh para bodyguard Tobias. Sehingga
ia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong adiknya.
“Tante Andraya tolong Einar, ia adalah keponakan Tante
sendiri. Kumohon Tante bujuk Tobias agar tidak memukuli Einar seperti itu, ia
tidak bersalah!” teriak Freja sambil tak henti-hentinya menangis. Namun,
Andraya tetap diam saja, ia benar-benar tampak tidak peduli akan hal tersebut.
“Cukup Fre, jangan menangis. I’m okay.” Di tengah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya,
Einar masih bisa berkata bahwa ia baik-baik saja. Hal itu membuat Freja semakin
merasa bersalah karena tidak bisa menolong adiknya.
Hal
berikutnya, Tobias membawa paksa Einar yang sudah tidak berdaya ke dalam sebuah
ruangan gelap gulita tepat di gudang bawah tanah yang sebenarnya ruangan itu
adalah laboratorium milik Tobias. Entah apa yang ingin dilakukannya terhadap
Einar. Freja dengan segala kekuatannya berhasil kabur dari genggaman para
bodyguard tadi dan kemudian menyusul Tobias.
“Kau memang pantas mendapatkan ini,” geram Tobias
sambil mengambil sesuatu di atas meja lab-nya dan menyuntikan itu ke dalam
tubuh Einar. Seketika itu juga Einar langsung tidak sadarkan diri. Freja yang
melihat itu seketika menjerit memanggil nama Einar. Tangisannya semakin
menjadi-jadi, ia teringat kembali akan pesan ibunya sebelum mereka memutuskan
untuk pergi ke tempat ini dan itu membuat hatinya semakin sakit.
“Mengapa Tante tega membiarkan hal itu terjadi pada
Einar ? Apa Tante lupa bahwa Einar itu keponakan Tante?” teriak Freja histeris
dan masih menangis.
“Maaf, Fre, aku tidak bisa melakukan apapun. Ini
adalah risiko yang harus Einar terima,” jawab Andraya santai. “Emilio tolong
bawa gadis ini ke pavilion belakang dan kurung dia,” perintah Andraya kepada
bodyguard pribadinya.
Freja membulatkan matanya kaget. Sebelum dia sempat
berteriak lagi, bodyguard itu telah
menyeretnya secara paksa dan mengurungnya sesuai perintah Andraya.
***
Freja
mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam
bola matanya. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri di dalam
pavilion ini, yang ia tahu hanyalah adiknya saat ini sangat membutuhkan
pertolongannya. Hingga tiba-tiba
terdengar suara seseorang memanggil namanya.
“Freja, Freja! Ke sini! Aku akan
membantumu,” ucap seseorang dan Freja pun mulai mencari asal suaranya.
“Kau siapa? Kau akan membantuku?” tanya Freja setelah
menemukan asal suara tersebut. Dilihatnya sesosok pria yang terlihat begitu
panik di balik jendela.
“Ya tentu saja aku akan membantumu,” jawab pria
tersebut.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Bahkan aku saja
tidak mengenalmu.”
“Untuk sekarang, jangan banyak bertanya. Ikutilah aku
dan percayalah.” Dengan begitu tergesa, lelaki itu mengeluarkan sebuah kunci
dan meloloskan Freja.
“Apa kau akan menyakitiku juga?” tanya Freja, was-was.
Pria tinggi di hadapannya hanya menatapnya datar. Manik birunya mengisyaratkan
Freja untuk berhenti bicara.
“Kau akan banyak berterima kasih setelah ini. Jadi
diamlah.”
Mereka berdua pun keluar dari
pavilion, dan ternyata hari sudah gelap. Keadaan begitu sepi dan Freja
menyadari ini telah larut malam. Freja dan juga pria tadi mengendap-endap masuk
ke dalam ruangan yang begitu panjang dan di dalamnya terdapat ruangan-ruangan kecil
yang berbaris rapi. Di lihatnya satu persatu ruangan tersebut sambil mencari
sosok Einar. Hingga akhirnya
mereka menemukan Einar yang sudah terbaring lemas tak berdaya. Sang pria yang
belum diketahui namanya oleh Freja itu segera mengeluarkan kunci dan membuka
ruangan itu. Untung saja penjaga yang bertugas di depan ruangan tersebut sedang
tertidur pulas dan tidak menyadari kedatangan mereka.
Freja
langsung menghampiri Einar, dikecupnya puncak kepala Einar. Einar terlihat
begitu menyedihkan, kulitnya semakin memucat dan banyak luka memar di tubuhnya
akibat pukulan yang dilayangkan oleh Tobias padanya. Mata hazel miliknya telah
tersembunyi di balik kelopak mata indahnya. Freja kembali menangis melihat
keadaan adiknya tersebut. Melihat itu,
pria penolong itu langsung membantu Freja untuk membopong tubuh Einar menjauhi
ruangan tersebut. Dipapahnya tubuh Einar sampai menuju sebuah mobil yang
terletak jauh dari kediaman Andraya.
“Terima kasih telah menolong kami,” bisik Freja
kelelahan setelah membaringkan tubuh Einar. “Tapi … aku tetap tidak mengerti
bagaimana bisa kau berada di sini? Siapa kau sebenarnya?”
Mobil yang mereka tumpangi mulai bergerak perlahan.
Freja menatap sang pria dengan rambut brunette
itu penasaran. Masih menyisakan tanda tanya besar di kepalanya.
“Maaf membuatmu bingung,” ujar pria itu pelan setelah
keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. “Aku Noah, Noah Alexander. Aku
adalah adik dari Tobias.”
Seketika itu Freja terkejut. Rasa takut mulai
menyelimutinya. Ketakutan itu sangat terasa hingga Noah menyadarinya.
“Kau tidak perlu takut. Aku di sini untuk menolong
kalian. Aku tidak seperti kakakku yang gila kekuasaan hingga membuat sebuah
eksperimen menyeramkan seperti ini, yang sayangnya berhasil ia wujudkan.”
“Bagaimana kau bisa tahu tentang eksperimen tersebut?”
Kini rasa penasaran dan keterkejutan Freja semakin membumbung.
“Sebetulnya aku juga dulu pernah tinggal di sini. Kehidupan
awal Esttervile memang mengenaskan. Kemiskinan dan penyakit dimana-mana. Maka
dari itu orang-orang dengan penghasilan yang cukup mulai pindah dari distrik
ini. Begitupula dengan orang tuaku. Namun, kakakku berbeda. Ia memiliki sebuah
ide untuk memajukan distrik ini. Dengan kemampuannya dalam bidang Sains, ia
mengajakku ikut serta untuk membuat sebuah vaksin yang dapat membuat
orang-orang kebal terhadap penyakit, meningkatkan ketahanan tubuh dan
menimbulkan rasa ingin bergerak terus-menerus tanpa kenal lelah,” jelas Noah
panjang lebar.
“Lalu, mengapa akhirnya kau tidak bekerja sama dengan
Tobias? Juga
… bagaimana kau bisa tahu tentang kami berdua?”
“Tobias
itu gila. Mungkin pada awalnya niatnya baik, tapi semakin lama, ia mempunyai
pikiran untuk menguasai semua kekayaan distrik ini dari mempekerjakan warga
tersebut. Aku pun memilih untuk ikut bersama orang tuaku, sedangkan ia memilih
keras kepala untuk melanjutkan eksperimennya. Keberhasilannya dalam dua tahun
belakangan ini membuatku geram dan berencana membuat obat penangkal dari vaksin
miliknya. Lalu, soal mengapa aku mengetahuimu dan Einar adalah karena aku
mengirim seseorang untuk bekerja bersama Tobias sebagai mata-mataku. Dia adalah Emilio, bodyguard
yang mengurungmu tadi.”
Freja menutup mulutnya terkejut. Semua
ini ternyata lebih rumit dari yang ia kira. Penjelasan Noah soal Estervile
membuatnya paham kenapa sosok ibu yang ditemuinya di pesawat begitu kaget saat
ia mengatakan akan pergi ke distrik tersebut.
“Lagipula,
aku sudah memperhatikanmu saat kita satu pesawat menuju Barkenburgh. Kau mungkin tidak melihatku, tapi aku mendengar jelas
kau akan pergi ke sini.” Noah tersenyum kecil melirik gadis berambut blonde di sampingnya yang terlihat
begitu syok dengan apa yang baru saja ia alami.
“Tapi, bagaimana dengan adikku? Tobias sepertinya
telah menyuntikkan vaksin itu kepadanya,” ucap Freja khawatir, melirik cemas
pada Noah. Tanpa gadis itu ketahui, di tengah gelapnya perjalanan yang ia
sendiri tidak tahu akan kemana, Noah telah menyiapkan sesuatu untuk mengobati
ketakutannya.
“Aku sudah membuat sebuah vaksin penangkal di distrik
tempatku tinggal sekarang. Belum 100 persen sempurna, tapi aku yakin itu bisa
menyembuhkan adikmu.”
“Distrik
tempatmu tinggal? Dimana itu?”
“Distrik
Arthio.”
TAMAT
?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar